Dalam Acer EduTech 2026 di hotel mivenpick Surabaya, ada banyak yg di sampaikan oleh prof Anita, sebagian yg ditangkap :
Coding =>
Seorang pelukis bisa membuat lukisan indah dengan skill melukis, dan seorang ahli harus juga menguasai banyak ilmu seperti filosofi, antropologi, peradapan, sejarah dll maka lukisannya akan semakin bernilai
Coding itu menggunakan komputasional thingking, salah satunya adalah mengenal pola dan ini harus dikenalkan di awal, dilanjutkan abstraksi => algoritma.
Pola belajar harus berubah, kalau dulu guru bertanya murid menjawab, tapi sekarang kita bertanya ai menjawab, sehingga jika pertanyaannya tidak bermutu maka hasilnya juga tidak bermutu.
AI =>
Kompetensinya berubah, dari yg awalnya mencari informasi menjadi kemampuan untuk memilah dan menyaring bahkan membuang informasi yg salah. Dg AI pekerjaan bukan tmbah sedikit, tapi akan semakin banyak pekerjaan yg harus dilakukan.
Banyak pekerjaan yg teroutomasi, apakah guru ikut teroutomasi?
AI sebagai alat? Atau tempat kita jadikan sandaran?
Ada orang tua yang membiasakan kepada anaknya, apa yang telah kamu tanyakan ke guru hari ini? Dg kebiasaan ini maka mengasah rasa keingintahuannya.
Bahaya AI, AI bukan lagi sebagai alat tetapi sudah bisa menghack peradapan dan dapat berkembang semakin banyak agen, semakin bisa belajar sendiri, dan mngambil keputusan sendiri.
Sehingga dibutuhkan mitigasi yang sesuai terutama oleh pakar teknologi, untuk guru harus dapat mengembangkan kemampuan filtering dan adaptasi serta etika. Sekolah harus memiliki kebijakan tentang penggunaan AI, keuntungan kelemahan serta penggunaannya.
Manusia tidak boleh ketakutan AI, karena manusia mempunyai kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, tapi juga tidak boleh sembrono.
Sekolah dan guru harus belajar AI agar mengerti seluk beluknya dan menemukan bagaimana meramu mitigasi yg sesuai karena AI sudah bukan pilihan melainkan sudah menjadi kebutuhan.
0 Response to "Coding dan AI bukan pilihan melainkan kebutuhan"
Posting Komentar